Terakhir Diperbarui:04:38:19 AM GMT

Anda berada di:

TPT Bocimi Dituding Sengaja Ulur Waktu Bayar Ganti Untung

E-mail Cetak PDF

BOGOR-KITA.com – Kisah pembayaran ganti untung lahan warga yang terkena proyek Jalan Tol Bogor –  Ciawi – Sukabumi (Bocimi), bak sinetron sabun colek. Tak ada habisnya, tetapi selalu muram. Betapa tidak, sampai saat ini masih banyak warga yang belum juga memperoleh ganti untung. Proyek tol yang semula berada di tangan Grup Bakrie, sejak awal tahun lalu berpindah ke tangan konglomerat media, Harry Tanoesudibjo. Warga sempat sumringah ketika muncul pernyataan bahwa ganti untung akan diselesaikan. Tetapi apa yang terjadi, pembayaran ganti untung tak kunjung tuntas sampai saat ini. Dayat (37) misalnya, salah seorang pemilik lahan, warga Desa Cisalada, Kecamatan Cigombong mengaku, lelah menunggu kepastian pembayaran ganti untung yang hingga saat ini belum juga terealisasi.

“Saya sudah lelah menunggu kepastian. Sampai-sampai kami ingin menggarap  sawah kami.  Namun kami batalkan karena khawatir di tengah jalan proyek dimulai,” ujar Dayat kepada PAKAR, Kamis (17/10).

Dia juga mengaku, sejak adanya rencana pembebasan lahan Bocimi, warga Cisalada khususnya yang menyandarkan hidup sebagai petani sudah sembilan kali tak bisa memanen sementara lahan terbengkalai.

Dayat curiga, pembayaran ganti untung itu sengaja diulur-ulur sampai warga akhirnya menyerah pada harga yang murah. Buktinya, hingga saat ini, kabar rencana pembangunan jalan tol tersebut sudah tak terdengar seolah hilang ditelan bumi. “Sampai saat ini, tidak ada khabar lagi. Ketika kami tanya kepada pihak desa, ternyata mereka sama saja, tidak tahu kelanjutanya,” akunya.

Sementara itu, Sekretaris P2T Kabupaten Bogor, Heri Suherman mengatakan, terkait pembayaran ganti untung, saat ini sudah mulai dilakukan musyarawah di wilayah Cigombong. Pembahasan sudah memasuki tahap penawaran harga untuk tiga desa, sementara tiga desa terakhir akan dilakukan pada awal November mendatang.

“Penawaran harga di tiga desa pertama sudah setuju, kami juga sudah mengusulkan kepada TPT untuk dilakukan pembayaran. Namun, untuk desa Cisalada dan desa lainya baru awal November akan dilakukan musyawarah penawaran harga,” katanya.

Heri juga meminta, kepada para pemilik tanah agar mempersiapkan bukti bukti kepemilikan alas hak tanah,agar dapat dibawa saat penawaran harga. Sementara bagi yang sudah setuju dengan harga yang ditawarkan pihak TPT hasil hitungan tim apreisal agar segera melaporkanya kepada pihak desa. “Kalau memang sudah setuju,  kami akan langsung ajukan, tidak akan kami tunda tunda lagi, karena kami juga ingin cepat selesai membayarkan ganti untung, baik untuk tanah, bangunan maupun tanaman,” pungkasnya. [] Harian PAKAR/Admin

Berikan Komentar


Security code
Refresh