Terakhir Diperbarui:04:50:27 PM GMT

Anda berada di:

Liputan Jumling di Desa Bojong Kecamatan Kemang: Rachmat Yasin “Membayar Tunai” Permintaan Warga

E-mail Cetak PDF

BOGOR-KITA.com – Membayar tunai semua permintaan dan menjawab tuntas semua keluhan. Demikian rangkuman Bogor-kita.com saat meliput dialog Bupati Bogor Rachmat Yasin dalam forum Jumling (Jumat keliling) di Masjid Nurul Huda, Desa Bojong, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, Jumat (8/4/2011).

Warga Kecamatan Kemang  menyuguhkan sedikitnya empat persoalan kepada Rachmat Yasin. Pertama, persoalan Masjid Nurul Huda yang pembangunannya belum selesai.  Kedua, soal aliran air irigasi yang tidak lancar. Ketiga, persoalan sengketa tanah. Keempat persoalan jalan rusak yang becek bila hujan.

 

Bantuan Masjid

Saat menyambut permintaan warga soal pembangunan masjid yang belum tuntas, Rachmat Yasin tidak langsung menjawab. Dengan bahasa rakyat diselingi guyon segar, Rachmat Yasin terlebih dahulu melihat ke sekeliling masjid. “Itu tripleks ngutang ke mana,” katanya disambut tawa gerrr. Lalu melirik jendela masjid yang belum ada kacanya.

Dia kemudian menyatakan pemerintah akan membantu sebesar Rp25 juta. Dalam suasana sangat bersahabat, rakyat ternyata meminta lebih. “Tambah….tambah,” kata warga. Rachmat Yasin tak kalah sigap.

Dikatakan, dirinya siap memberikan tambahan. Tetapi dengan syarat, apakah warga mampu melakukan shalat subuh minimal dihadiri tiga baris? Tak pelak tantangan Rachmat Yasin disambut gerrr lagi.

Begitupun Rachmat Yasin tak ingin mengecewakan warga Desa Bojong. Dia kemudian menyatakan akan menambah bantuan sebesar Rp10 juta sebagai sumbangan pribadi bupati. Warga menyambut “Alhamdulillah”.

Rachmat Yasin belum berhenti. Dengan gaya bak pemandu lelang, Rachmat Yasin mengajak pejabat yang ikut Jumling untuk juga ikut menyumbang. Dia mengabsen beberapa pejabat dan menanyakan mau menyumbang berapa. “Satu juta, 500 ribu?”katanya.  Bebebrapa pajabat setingkat kepala dinas kemudian menyebut angka Rp500 ribu. Bupati yang merakyat ini kemudian menyempatkan menghitung jumlah bantuan yang diterima. Totalnya mencapai hampir Rp40 juta. Warga gembira

 

Air  Irigasi Tertahan Karena Pemancingan

Itu tentang masjid. Dalam dialog juga  sempat dilontarkan situasi pelik yang dihadapi warga karena berhadapan dengan orang kuat. Salah satunya soal aliran air irigasi yang tidak lancar karena air tertahan oleh kolam pemancingan milik orang tertentu.

Air yang tidak lancar tersebut tidak hanya mengganggu pertanian warga, tetapi juga menganggu rencana warga mengembangkan pupuk kompos untuk meningkatkan kesuburan tanah. “Kalau air tidak lancar semuanya terganggu. Jadi mohon bantuan Kang Rachmat,” kata warga.

Mendengar keluhan itu Rachmat Yasin dengan tegas meminta agar masalah tertahannya air itu segera diselesaikan. Kalau air tertahan karena kolam pemancingan, maka pemilik pemancingan harus ditegur. “Kepala Desa harus selesaikan. Kalaupun pemancingan itu milik AURI, kalau salah harus ditegur,” kata Bupati.

Apalagi, imbuhnya, sawah sangat memerlukan air. “Maka persoalan pemancingan yang membuat air tertahan harus diselesaikan,” katanya memberikan penegasan.

 

Sengketa Tanah

Warga juga mengeluhkan soal sengketa tanah tiga di desa dengan pihak AURI. Tanah itu, kata warga adalah tanah adat. Sekarang, imbuh warga, Badan Pertanahan Nasional (BPN) sudah menguatkan bahwa tanah seluas 42 hektar di tiga desa (Desa Bojong, Semplak Barat dan Mekarsari) itu adalah tanah adat.

Persoalan tanah itu sangat serius bagi warga. Karena itu warga mendesak Bupati untuk mendorong BPN agar lebih menguatkan lagi status tanah itu. “Kalau BPN lebih tegas lagi, kami siap menolak jika pihak AURI mengajak berdialog. Jadi kami bukan siap datang, tetapi siap untuk menolak datang,” kata warga.

Tentang hal ini Bupati Rachmat Yasin memberikan jawaban yang tidak kurang tegas. Dia menuturkan, bahwa kasus yang sama juga terjadi di Rumpin. Di rumpin, menurut Bupati, kasusnya lebih parah. Tetapi, katanya, kalau surat-surat lengkap jangan segan-segan mengajukan gugatan ke pengadilan. “Pemda akan membatu biaya pengacara,” kata Bupati.

 

Jalan Rusak

Bupati juga membayar tunai permintaan ibu-ibu terkait jalan rusak. Permintaan ibu-ibu ini sebetulnya datang di luar dugaan. Pasalnya, acara dialog sudah ditutup dan semua pertanyaan sudah dijawab tuntas. Tetapi, ibu-ibu warga Bojong rupa-rupanya tidak ingin menyia-nyiakan kehadiran Bupati. Dengan spontan ibu-ibu memohon agar diberi satu kesempatan berbicara.

Rachmat Yasin langsung mengiyakan. Maka salah seorang perwakilan ibu-ibu menguraikan persoalan jalan yang rusak dari dekat masjid ke Bojong. “Jalan itu masih berbatu, kalau hujan becek, anak-anak yang sekolah ke Bojong sulit melaluinya,” keluh perwakilan ibu-ibu.

Rachmat Yasin membayar tunai. Dia langsung menanyakan berapa lebar jalan, berapa panjangnya. Lalu mengkalkulasi berapa luas yang harus dibetonisasi. “Ajukan proposal. Langsung ke Bupati, model PNPM. Jangan ke Dewan, langsung ke saya,  biar cepat,” kata Bupati yang tak pelak disambut gemuruh ibu-ibu. O rini/avi/novi/petrus

Berikan Komentar


Security code
Refresh