Terakhir Diperbarui:03:11:35 AM GMT

Anda berada di:

Sungai Ciliwung Kotor, Siapa Buang Sampah Sembarangan?

E-mail Cetak PDF

Tempat_KPc_Bogor_memulung_sampah_di_bawah_jembatan_yang_melintas_Sungai_Ciliwung_BOGOR-KITAcom - Sekitar 12 orang tergabung dalam Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) Bogor, berlokasi di RT 7, RW 3,  Kelurahan Sukasari, Kota Bogor, memulung sampah pada Sabtu (13/10). Sampah-ampah memang belerot. Siapa yang membuang sampah sembarang di Sungai Ciliwung?

Sebanyak Mereka terdiri Himpunan Mahasiswa Biologi (HMB), Fakultas MIPA,  Jurusan Biologi, Universitas Pakuan Bogor, LSM Telapak Bogor dan Kalimantan Timur, dan KPC Condet.

Kegiatan memulung sampah yang dimotori oleh KPC Bogor ini sudah berjalan selama 4 tahun dan rutin dilaksanakan setiap minggunya.

Di bawah jembatan yang melintas sungai Ciliwung  terdapat banyak tumpukan sampah rumahtangga. Anggota HMB seperti Ayu, Novi, Lita, Ibnu Masud, dan Galih, termasuk Panji dari Telapak Kalimantan Timur dan Riri dari KPC Bogor cukup cekatan memilah-milah sampah organik dan anorganik kemudian memasukkannya ke dalam karung. ”Kami peduli Ciliwung dan mendukung  kegiatan yang dilakukan KPC Bogor ini,” kata Ibnu Masud dari HMB kepada bogor-kita.com.

Sudirman Asun, dari KPC Condet, Jakarta, tiba-tiba mengucapkan terimakasih dengan suara lantang. Rupanya ada seorang warga yang melintas jembatan sambil membuang sekantong kresek sampah yang jatuh di bantaran sungai Ciliwung. ”Brak,” bunyi kantong kresek berisi sampah itu mengejutkan kami yang sedang memungut sampah.

Rita_dan_RiriSeperti anjing mengonggong kafilah tetap berlalu, sang pembuang sambah hanya selintas melihat ke arah  sumber suara di bawah jembatan itu, kemudian melenggang jalan seperti tanpa merasa bersalah. “Saya yakin orang itu  pasti warga urban,” kata Asun setengah menduga sambil terkekeh.

Pria berkacamata yang dipanggil Ko Asun oleh rekan-rekannya ini cukup beralasan menduga, jika  warga urban itu sering membuang sampah sembarangan. “Sebagai pendatang, warga urban umumnya tidak peduli dengan lingkungannya. Karena mereka tidak memiliki masa lalu dan tidak pernah merasakan jernihnya air sungai Ciliwung pada masa kecil dulu. Jadi wajarlah mereka tidak merasa memilikinya. Sesungguhnya sungai Ciliwung adalah persoalan bersama,” kata Asun.

Dedi Sutadi, Ketua RT 7 yang hadir dalam kegiatan memulung sampah juga mengakui ada benarnya warga pendatang cenderung seperti itu (buang sampah sembarangan red.). “Mereka umumnya membangun rumah di pinggir sungai,” papar Dedi warga asli Bogor sambil menunjuk bangunan-bangunan rumah semi permanen yang terdapat di sepanjang sungai Ciliwung.

Rombongan KPC Bogor berada di bawah jembatan dengan menuruni anak tangga dari jalan Sukamulya. Posisi sungai Ciliwung yang menyempit, aliran airnya berada di bawah 5 meter dari permukaan tanah. Dari posisi ini dapat melihat sederet rumah semi permanen yang dibangun tidak beraturan.  ”Mereka inilah yang sering membuang sampah di bantaran sungai ini,” kata Dedi.

“Tapi perilaku mendirikan bangunan dan membuang sampah tak beraturan bukan saja monopoli warga di sepanjang sungai Ciliwung ini (kelurahan Sukasari red.), tapi juga para pemilik vila yang ada di kawasan Puncak, Bogor. Ah … banyak pelanggaran di mana-mana mas...,” papar Asun setengah mengeluh.

Terlepas dari persoalan itu, Rita Mustikasari,  mengakui bahwa kegiatan KPC Bogor sejauh ini lebih mengutamakan berbuat langsung, biar dilihat masyarakat. “Kami tidak memiliki otoritas untuk mengatur masyarakat terlalu jauh.  Harapan kami dengan memulung sampah  masyarakat dapat meniru apa yang kami lakukan, misalnya  memilah sampah, mana yang organik dan mana yang anorganik,” urai Rita Mustikasari dari KPC Bogor.

Untuk itulah Rita mengusulkan harus ada mekanisme yang mengatur persoalan sampah ini. “Pemerintah harus turun tangan. Salah satunya tumbuhkan titik-titik lokasi yang menjadi pusat mesin pencacah sampah yang tidak bisa diurai seperti plastik dan sebagainya,” usul Rita.

KPC Bogor sudah melewati  tahun ke 4 dalam aktivitas peduli sungai Ciliwung.  Salah satu agenda yang patut dicatat bahwa gagasan Lomba Memulung Sampah antar kelurahan yang dilewati Sungai Ciliwung di Kota Bogor yang dicetus KPC Bogor sudah menjadi agenda HUT Kota Bogor yang jatuh pada tanggal 2 Juni setiap tahunnya.

Lomba memulung sampah ini  memperebutkan Piala Begilir Walikota Bogor, Diani Budiarto,  yang sudah dilaksanakan untuk ke dua kalinya.  (ZZ)

Berikan Komentar


Security code
Refresh