Terakhir Diperbarui:04:38:19 AM GMT

Anda berada di:

Bima: Bongkar Saja Amaroossa

Dialog_LBH_dengan_Bima_Arya_5

BOGOR – Hotel Amarrossa dan Optimalisasi Terminal Baranangsiang merupakan dua isu yang hangat dibahas dalam pertemuan antara Direktur Eksekutif Lembaga Bantuan Hukum Keadilan Bogor Raya (LBH KBR) dengan Walikota dan Wakil Walikota terpilih, Bima Arya Sugiarto dan Usmar Hariman di Kantor Walikota Transisi, di Jalan Pandu, Kota Bogor,  Senin (7/10) pagi. Terkait Hotel Amaroossa, Bima mengemukakan, kalau melanggar Izin Mendirikan Bangunan (IMB) bongkar saja. Sedang soal Optimalisasi Terminal Baranangsiang, Bima mengemukakan, optimalisasi itu tidak akan lolos.

Pertemuan yang berlangsung santai tapi serius, diawali pemaparan Bima Arya yang mengatakan pihaknya kini sedang sibuk-sibuknya menerima masukan dari masyarakat dalam rangka menyusun program 100 hari pertama. Salah satunya dari LBH KBR. “Jadi begitu dilantik langsung bisa action,” kata Bima.

Pertemuan dilanjutkan dengan pemaparan dari Sugeng Teguh Santoso terntang sejumlah persoalan yang sudah dipersiapkan lengkap dengan copy untuk wartawan.  Sugeng antara lain menyebut soal reformasi birokrasi, reformasi BUMD, Panitia Seleksi Direksi PDAM, perizinan, soal Untung Kurniadi, dan lain sebagainya.  Keduanya sempat tertawa saat menyebut nama Untung Kurniadi.

Namun sesi Amaroossa dan optimalisasi terminal Baranangsiang lebih dominan karena terjadi saling tukar informasi dan pembahasan rekomendasi. Soal Amaroossa Sugeng memaparkan pelanggaran yang dilakukan terkait IMB, dalam hal ini koefisien daerah bangun (KDB) yang tidak sesuai dengan luas lahan. Bima sempat bertanya apa rekomendasi yang disarankan,  dijawab Sugeng dengan mengatakan, agak sulit karena bangunan hotelnya sudah berdiri. Menanggapi hal itu, Bima dengan tegas mengatakan, Hotel Amaroossa, kalau melanggar ya dibongkar saja. “Kalau dibongkar juga tidak ada kerugian buat saya. Jadi sebaiknya, ikuti perda, pasti aman. Salah sendiri mainnya begitu, apa tidak hitung walikota setelahnya siapa?” katanya.

Namun menurut kontraktor yang membangun Hotel Amaroossa, Surya Djohan, kepada PAKAR, melalui sambungan telpon, Senin (7/10) sore, mengatakan, pihaknya sudah memenuhi seluruh peraturan yang berlaku di Kota Bogor.

Terkait Terminal Baranangsiang, Sugeng menyorot istilah yang digunakan dalam IMB yakni, optimalisasi terminal. Menurutnya istilah itu tidak benar. Sebab istilah terminal adalah fungsi, bukan objek hukum. Yang benar adalah optimalisasi aset pemda.  Sugeng mengemukakan, pihakya menduga hal itu bukan kesalahan teknis, melainkan ada indikasi pengelabuan.

Menanggapi hal itu, Bima mengemukakan, dirinya telah melihat master plan optimalisasi yang ada hotel dan mal. Menurut Bima, optimalisasi itu  tidak akan lolos. Sugeng sempat mengemukakan, enam bulan sebelum walikota dan wakilnya dilantik, bisa saja pembangunannya digeber, sehingga sulit lagi mencari pemecehannya. Menanggapi hal itu, Bima menegaskan, “Perspektif legalistiknya, mereka tidak akan mulai sebelum ada tandatangan dari kita.” Pertemuan diakhiri dengan makan pecel bersama, dan harapan Sugeng agar duet Bima-Usmar awet. [] Harian PAKAR/Admin

Berikan Komentar


Security code
Refresh